Prediksi bencana menggunakan AL
Sekelompok peneliti dari Harvard University telah melatih kecerdasan buatan untuk ‘mengunyah’ data sensor dalam jumlah besar dan menerapkan pembelajaran mendalam agar prediksinya lebih akurat. Para ilmuwan di balik sistem baru ini mengatakan, AI tersebut belum siap digunakan, tapi ia lebih bisa diandalkan dalam menentukan gempa susulan dibanding model prediksi yang ada sekarang Dalam beberapa tahun ke depan, kecerdasan buatan akan menjadi bagian penting dari sistem prediksi yang digunakan seismolog. “Ada tiga hal yang ingin Anda ketahui dari gempa bumi: kapan akan terjadi, seberapa besar, dan di mana pusatnya,” kata Brendan Meade, salah satu anggota tim peneliti dari Harvard University.
“Terkait teknologi terbaru ini, kami sudah memiliki hukum empiris tentang kapan dan seberapa besar gempa yang akan terjadi. Sekarang, kami sedang meneliti kaki ketiganya, yaitu di mana gempa berlangsung,” tambahnya. Masih ada banyak hal yang harus dipelajari. Para ilmuwan mengatakan, model AI yang mereka kembangkan saat ini hanya dirancang untuk menangani satu jenis pemicu gempa susulan dan garis sesar sederhana. Oleh sebab itu, sistem ini belum bisa digunakan pada semua jenis gempa di seluruh dunia. Lebih lanjut, kecerdasan buatan ini masih terlalu lambat untuk memprediksi gempa susulan yang bisa terjadi satu atau dua hari setelah gempa utama. Contoh saat Tsunami Aceh, daerah yang paling rusak itu di pedalaman.
Tapi suplai atau lgositik bantuan itu lebih banyak di tepi pantai. AI kami memungkinkan untuk melakukan inventaris di mana logistik yang harus disebarkan, yakni ke daerah yang paling membutuhkan yang membutuhkan," kata Wijaya ketika ditemui dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (7/9).
Selain untuk memprediksi bencana alam dan distribusi bantuan, menurut Wijaya kecerdasan buatan juga bisa memberikan informasi mengenai prediksi cuaca dan potensi bencana akibat perubahan atau cuaca ekstrim. Di Rio de Janeiro Brazil kami menerapkan AI untuk membaca cuaca lebih cepat. Karakteristiknya kota ini mudah terjadi bencana banjir kalau terjadi hujan besar," tuturnya.
Wijaya juga mengatakan saat bencana alam, hal yang paling rumit adalah mencari sanak saudara di tengah-tengah kondisi bencana alam tersebut. Wijaya mengatakan AI yang tersambung dengan cloud bisa memudahkan pencarian ini karena data base terintegrasi. "Saat bencana yang jadi masalah bagi semua orang adalah menemukan keluarga. Masing masing tidak akan ketemu kalau mencari dengan manual. Yang kita lakukan adalah cukup masukkan lokasi ke komputer. Lalu bisa menemukan orang tersebut lewat komputer," ujar Wijaya.
Berdasarkan situs IBM, IBM memiliki program insiatif untuk menanggulangi bencana alam. Inisiatif ini dinamakan Call for Codes. Call For Codes mengajak pengembang untuk membuat aplikasi berbasis AI untuk persiapan menghadapi bencana alam. Misalnya pengembang bisa membuat aplikasi yang menggunakan data ramalan cuaca dan sistem informasi berantai untuk memperingatkan apotek lokal ketika diramalkan akan terjadi bencana berdasarkan data cuaca itu. Peringatan ini akan membuat apotek bisa meningkatkan suplai obat-obatan, air dan keperluan logistik untuk menghadapi bencana. Aplikasi ini juga bisa membaca daerah mana yang terkena dampak paling besar sehingga bantuan logistik bisa tepat sasaran.
Sumber :
https://m.cnnindonesia.com/teknologi/20180809165257-185-320972/kecerdasan-buatan-bisa-bantu-penanganan-bencana https://www.google.co.id/amp/s/nationalgeographic.grid.id/amp/13931436/peneliti-kembangkan-kecerdasan-buatan-yang-bisa-prediksi-gempa-susulan https://www.google.co.id/amp/s/nextren.grid.id/amp/01966302/google-tantang-pembuat-ai-untuk-prediksi-bencana-hingga-selamatkan-alam

Komentar
Posting Komentar